Beranda Buletin Ekbis Guru Besar IPB: Cadangan Beras Bulog Terlalu Rendah

Guru Besar IPB: Cadangan Beras Bulog Terlalu Rendah

Pekerja melakukan pengepakan beras dari mesin 'rice to rice' (RTR) sebelum kunjungan Wakil Presiden Ma'ruf Amin di kompleks pergudangan modern Perum BULOG di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (11/3/2022). Kunjungan wakil presiden tersebut dalam rangka mengamati pengelolaan dari mesin 'rice to rice' (RTR) serta memastikan ketersediaan bahan pokok menjelang bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri 2022. [Foto: Ant/M Risyal Hidayat/wsj.
  • Penmerhati pangan IPB menjelaskan, cadangan beras pemerintah yang dikelola oleh Bulog terlalu rendah sehingga sulit menjaga ketahanan pangan nasional.

Guru Besar Fakultas Ekonomi & Manajemen IPB University, Yusman Syaukat menilai, cadangan beras pemerintah yang dikelola oleh Bulog terlalu rendah sehingga sulit menjaga ketahanan pangan nasional. Kondisi tersebut dikhawatirkan membuat harga beras akan melonjak.

“Jika saat ini kekurangan pangan dan sekaligus mencari solusi, saat ini merupakan suatu kemunduran bangsa semestinya sudah bisa diantisipasi sebelumnya,” tuturnya saat berdialog di acara PATAKA yang mengusung tema Polemik Menimbang Impor Beras di Tengah Klaim Surplus, Selasa (29/11/2022).

Pun jika dalam jangka pendek pemerintah melakukan pengadaan pangan akan sulit apalagi November waktu-waktu produksi telah terlewat.

Maka sulit melakukan pengadaan Cadangan Beras dalam negeri. Sedangkan melakukan importasi beras ke luar negeri pun perlu waktu disamping belum ada barangnya.

Masalah pangan tidak boleh sembarangan, harus mempersiapkan dari jauh hari karena beras ini merupakan masalah pangan utama sekaligus politis sehingga harus dipersiapkan dengan baik,” tegasnya.

Kemudian, Yusman juga menyoroti perbedaan data produksi dan konsumsi di sektor perberasan. Di mana Kementerian Pertanian mengklaim adanya surplus produksi sementara Kementerian Perdagangan justru mengatakan perlunya impor beras.

Ia menilai, adanya perbedaan data tersebut, karena terdapat perbedaan kepentingan antara Kementerian/Lembaga yang satu dengan Kementerian/Lembaga yang lainnya.

“Yang satu menjaga kinerja, masa sih tidak bisa melakukan surplus. Yang satu kalau tidak impor juga enggak ada kinerja. Jadi ya selalu kayak gitu,” cetus Yusman.

Ia berharap ke depan cukup ada satu data soal pangan terutama beras yang akurat. Sehingga itu yang menjadi acuan. Kemudian, dibentuknya  Badan Pangan Nasional juga diharapkan mampu melaksanakan fungsi koordinasi, sehingga tidak ada lagi perbedaan data yang membuat pihak lain kebingungan. [Idx]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here