Beranda Opini Dolar AS Tidak Langka: Cadangan Devisa Lebih Dari 130 Miliar Dolar AS

Dolar AS Tidak Langka: Cadangan Devisa Lebih Dari 130 Miliar Dolar AS

Seorang teller di tempat penukarang uang asing (money changer) tengah menghitung lembaran uang kertas dolar Amerika di atas uang kertas rupaih Indonesia di Jakarta, 12 Agustus 2015.
Dolar AS Tidak Langka: Cadangan Devisa Lebih Dari 130 Miliar Dolar AS

Oleh: Anthony Budiawan

Dolar AS langka? Pernyataan ini tidak benar, terkesan fitnah (cari kambing hitam), bahkan terdengar seperti membodohi publik.

Karena, cadangan devisa Indonesia masih sangat besar. Sangat aman. Begitu kata BI. Cadangan devisa Indonesia lebih dari 130 miliar dolar AS. Bagaimana bisa langka?

Cadangan devisa tersebut sebagian besar (atau lebih tepat, semuanya) berasal dari investor asing, yang membawa dolar masuk ke Indonesia, untuk investasi di Indonesia.

Sekarang, investor asing tersebut mau menarik kembali dolarnya. Mau dibawa ke negeri asalnya. Tidak banyak, hanya 16 miliar dolar AS, dalam satu tahun terakhir ini, tercermin dari penurunan cadangan devisa dari 146 miliar dolar AS (tertinggi, pada 09/2021) menjadi 130 miliar dolar AS (10/2022).

Masalahnya, pemilik dolar AS lainnya tidak mau melepas dolarnya. Mereka juga mau pegang dolar AS, tidak mau pegang rupiah. Membuat permintaan terhadap dolar AS jauh lebih besar dari supply.

Hal ini diperparah dengan intervensi Bank Indonesia yang membuat kurs rupiah tertahan di bawah Rp16.000. Tanpa intervensi mungkin kurs rupiah sudah tembus Rp16.000 atau Rp17.000 per dolar AS. Artinya, kurs rupiah hasil intervensi ini artifisial, tidak menarik bagi investor asing, mengingat suku bunga the Fed sudah naik cukup tinggi, sudah mendekati suku bunga acuan BI, dengan selisih hanya sekitar satu persen saja, sehingga pemilik dolar tidak mau melepas dolarnya.

Jadi, dolar AS tidak langka.

Yang langka adalah kebijakan yang tepat dalam merespons kebijakan the Fed, Bank Sentral Amerika Serikat.

Untuk mengatasi inflasi yang sangat tinggi, the Fed terpaksa menaikkan suku bunga acuannya cukup agresif. Selama 6 bulan terakhir suku bunga the Fed sudah naik 4 persen. Kebijakan ini diambil untuk menyelamatkan ekonomi Amerika Serikat, untuk menyelamatkan ekonomi rakyat Amerika Serikat yang daya belinya digerogoti inflasi.

Tidak ada yang salah dengan kebijakan the Fed ini. Bahkan Bank Indonesia dan Bank Sentral lainnya, seharusnya, sudah dapat memprediksi dan mengantisipasinya.

Antara lain dengan menaikkan suku bunga acuan, sebagai respons atas kebijakan the Fed. Tetapi hal ini tidak dilakukan sepenuhnya oleh BI. Kenaikan suku bunga acuan BI hanya 1,75 persen versus kenaikan suku bunga the Fed sebesar 4,00 persen. Maka itu, dolar lari keluar, bukan langka. Dan kurs rupiah melemah.

Begitu juga dengan ECB, European Central Bank, yaitu bank sentral untuk negara-negara pengguna mata uang euro. ECB hanya menaikkan suku bunga acuannya sebesar 2 persen, maka itu kurs euro anjlok 20%, dari sekitar 1,2 dolar AS per euro menjadi sekitar 1 dolar AS saja. Bahkan sempat di bawah 1 dolar AS.

Kesimpulannya, tidak ada makan siang gratis. Tidak bisa hanya mau menikmati usaha the Fed, tanpa ikut menanggung “derita” kenaikkan suku bunga acuan.

BI telah menentukan pilihan kebijakannya. BI secara sadar menahan laju kenaikan suku bunga acuan jauh di bawah kenaikan the fed fund rate. BI juga sangat paham konsekuensi dari pilihan kebijakan tersebut. Yaitu dolar AS kabur dan rupiah anjlok.

Bukan dolar AS langka!

Penulis adalah Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies) 

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20221118070501-78-875351/bi-ungkap-dolar-as-langka-di-pasaran

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here