Beranda Opini NILAI PANCASILA 404: NOT FOUND?

NILAI PANCASILA 404: NOT FOUND?

NILAI PANCASILA 404: NOT FOUND?

Oleh: Prof Dr Pierre Suteki SH MHum

Anda tentu masih ingat beberapa MURAL (lukisan dinding) yang mengandung PESAN KRITIS thd situasi dan kondisi kekinian. Ada 3 Mural yang Viral, yaitu:

1. “Gambar Mirip Presiden Jokowi dan tulisan: 404:
NOT NOT FOUND”
(Batuceper Tangerang)
2. DIPAKSA SEHAT DI NEGARA YANG SAKIT”
(Bangil Pasuruan Jatim)
3. “TUHAN AKU LAPAR”
(Tigaraksa, Tangerang)

Kalau kita cermati, kritik sosial ini sebenarnya merupakan salah satu cara rakyat mengekspresikan “kegalauannya” terkait dengan realitas kehidupan di sekitarnya. Ada dugaan rakyat putus asa menyampaikan aspirasinya melalui saluran resmi, yakni melalui wakil-wakilnya di dewan legislatif dan juga pemimpin-pemimpin daerah. Aspirasinya tidak didengar. Kalaupun didengar tetapi tidak dipahami. Kalau pun dipahami tetapi tidak ditindaklanjuti. Ambyar bukan?

Ya akhirnya rakyat memilih slogan GOJEK: “SELALU ADA JALAN“. JALAN LAIN ITU ADALAH DENGAN LUKISAN DINDING atau MURAL.

Coba kita cermati makna 3 MURAL yang sempat heboh itu. Saya berpendapat praktik kebijakan pemerintah negara ini lebih beraroma liberal kapitalis yang sudah tercemar sosialisme komunis. Kita lihat bagaimana liberal kapitalistiknya ekonomi kita yang didukung dengan hukum yang liberal kapitalistik (KUHD, Revisi UU KPK, UU INVESTASI, MINERBA, PT, UU Omnibus CIPTA KERJA dll, harga PCR yang mencekik, tdk nalar, jauh dibandingkan negara lain). Kita juga saksikan betapa represif dan diktatornya ala komunis penegakan hukum yg seolah negara ini bukan negara demokrasi. Misal penangkapan aktifis demokrasi, aktivis agama, ulama, tokoh masyarakat, extrajudicial killings dll yang sebenarnya dapat diselesaikan secara restorative justice. Sehingga kita bertanya ke mana nilai-nilai Pancasila?

Mari kita kupas 3 mural yang viral..!!!

Mural pertama:

Gambar mirip Jokowi plus 404: NOT FOUND

Apa maknanya. Di negara welfare state kita kenal adanya NEGARA BENEVOLEN, yakni negara sebagai BAPAK rakyatnya yang seharusnya SELALU HADIR mendampingi rakyat serta berempati, bersimpati terhadap penderitaan rakyatnya. Di masa Pandemi ini Presiden dan para punggawanya sering berteriak bahwa penangananan pandemi menggunakan dalil SALUS POPULI SUPREMA LEX ESTO, KESELAMATAN RAKYAT ADALAH HUKUM TERTINGGI.

Rakyat merasa bukan itu praktik yang dijalankan oleh Presiden karena sebagian rakyat menilai bahwa justru keselamatan rezim status quo adalah hukum yang tertinggi. Terbukti sejak awal pemerintah BIMBANG antara PENYELAMATAN KESEHATAN dan EKONOMI sehingga langkahya menjadi gontai dengan memilih sikap abai dan kebijakan yang kontraproduktif. Hingga terakhir pidato kenegaraan Presiden tanggal 16 Agustus 2021, kehadiran negara “Presiden” diragukan karena kurang memiliki rasa simpati dan empati terhadap KEDUKAAN RAKYAT di masa Pandemi.

Tidak keluar dari mulut Presiden ucapan BELASUNGKAWA atas 3 jutaan warga yang terinfeksi virus covid 19 dan 121 ribu warga yang meninggal karena covid 19,  yang di dalamnyabada dokter, dokter spesialis, perawat, ahli kesehatan. Presiden juga absen untuk mengungungkapkan keprihatinan atas penurunan kualitas hidup rakyat akibat matinya usaha, pengangguran dan penurunan pendapatan serta ketimpangan sosial lainnya. Pertanyaan kita, di mana, ke mana Presiden? Salahkah jika ada seorang warga pegiat seni yang membuat MURAL 404: NOT FOUND? Apakah ini menunjukkan kehadiran PEMIMPIN yang berketunana, berperikemanusiaan, berkeadilan sosial? Pertanyaannya: di mana, ke mana Pancasila? Lalu dapatkah kita menyebut dalam kasus ini bahwa nilai PANCASILA: 404 NOT FOUND?

Mural kedua:

DIPAKSA SEHAT DI NEGARA YANG SAKIT“.

Pesan apa yang dapat ditangkap dari mural ini? Saya menangkap pesan bahwa Pemberlakuan PSBB, PPKM Makro dan Mikro, PPKM Darurat dan PPKM Level 4 dirasa masyarakat justru MENYULITKAN dan MENYESENGSARAKAN RAKYAT karena RAKYAT DIPAKSA OLEH NEGARA dengan BANYAK PEMBATASAN tetapi KESEHATANNYA TIDAK DIJAMIN melalui pemenuhan kebutuhan pokok rakyat. Bansos yg sedikit pun dikorupsi oleh menterinya sendiri. Belum lagi soal PEMAKSAAN VAKSIN oleh NEGARA yang tidak diikuti dengan kebijakan penanggulangan pandemi dgn roadmap yang jelas. Belum lagi soal Harga PCR yang sangat tinggi, tidak wajar karena melebihi harga tiket pesawat sedang negara lain bisa lebih sangat murah (India).

Justru yang terjadi adalah program PERPANJANGAN PPKM LEVEL berkali-kali tanpa tahu kapan akan berakhir. Apakah perang pandemi akan menjadi INFINITY WAR? Kesejahteraan rakyat, keamanan sosial tercabik, lalu di mana, dan ke mana Pancasila? Salahkah bila kita menyebut Nilai Pancasila 404: NOT FOUND?

Mural yang ketiga:

TUHAN AKU LAPAR“.

Pesan mural ini sangat clear. Pembuat mural seolah mewakili sebagian rakyat yang mengalami pemenuhan kebutuhan pangan yg merupakan basic need. Lapar merupakan kebutuhan yang tidak dapat ditunda pemenuhannya. Dalam situasi apa pun negara sesuai sila ke 5 Pancasila, mempunyai kewajiban untuk mengurus (meriayah) rakyatnya sehingga TIDAK ADA WARGA SATU PUN YANG KELAPARAN. Saya yakin, sebenarnya ORANG MISKIN itu MALU mengatakan dirinya sedang LAPAR. Namun, ketika dengan bahasa tubuh serta rintihan lirihnya tidak didengar, maka RAKYAT MENCARI JALANNYA SENDIRI dengan kritik melalui mural. Akibat lalainya negara dalam menjamin “KECUKUPAN PANGAN” sehingga muncul LAPAR ini menunjukkan sila ke 5 Pancasila tidak terwujud. Lalu, di mana, ke mana Pancasila? Salahkah jika ada yang menyatakan Nilai Pancasila 404: Not Found!

Pertanyaan besar kita: BENARKAH KRITIK BEM UI yang pada intinya ingin menyampaikan pesan bahwa IDEALISME BANGSA INI TIDAK TEMBUS DALAM HATI DAN TINDAKAN, MAKA DISEBUT “THE KING OF LIPS SERVICE“?

Tabik…!!!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here