Beranda Sastra Online Adaptasi Film Modern Hidupkan Lagi Novel-Novel Klasik Jane Austen

Adaptasi Film Modern Hidupkan Lagi Novel-Novel Klasik Jane Austen

Pakar Jane Austen Hazel Jones membaca dari novel Austen "Pride and Prejudice" selama dua belas jam pembacaan langsung di Jane Austen Center di Bath, Inggris selatan, 28 Januari 2013. (Foto: REUTERS/Suzanne Plunkett)
  • Persuasion, film baru berdasarkan novel awal abad ke-19 karya Jane Austen, masuk 10 besar film teratas di platform streaming Netflix.
  • Meskipun penggemar berat Austen dan banyak kritikus menyebutnya tidak autentik, yang lainnya berpendapat versi modern seperti itu dapat menarik penikmat baru buku-buku karya penulis Inggris terkenal itu.

Dalam film Persuasion garapan Carrie Cracknell yang didasarkan pada novel awal abad ke-19 karya Jane Austen, Dakota Johnson memerankan Anne Elliot. Elliot adalah perempuan muda dari keluarga ningrat yang pernah terbujuk untuk memutuskan pertunangannya dengan seorang perwira Angkatan Laut muda karena rendahnya status dan kekayaannya. Delapan tahun kemudian, Elliot masih merindukannya.

Banyak fans tradisional Austen menyebut film terbaru ini sebagai parodi, menarik bagi kaum milenial yang menurut mereka, tidak pernah membaca buku-buku klasiknya.

Yang lainnya, seperti Timothy Erwin, pakar Austen di University of Nevada, Las Vegas, mengatakan, adaptasi modern seperti Persuasion edisi terbaru ini memiliki kelebihan, yakni menggabungkan bahasa kontemporer dan kepekaan modern ke novel klasik Austen yang abadi. Ia menyebut para pemeran yang multiras dalam film itu, menggambarkan aristokrasi Inggris pada abad ke-18.

Sementara itu menurut Jillian Davis dari Pemberley Podcast, Austen akan menghargai penafsiran karyanya yang berbeda. “Dalam banyak hal, Jane Austen adalah novelis roman modern pertama karena buku dan lansekap fiksi sewaktu ia masih hidup ketika itu benar-benar lebih ditujukan pada kaum lelaki dan belum ada banyak buku yang ditulis dari sudut pandang perempuan. Memperlihatkan bagaimana perempuan mengejar kebahagiaannya dan kemudian mendapatkannya seperti itu benar-benar radikal, hal tersebut tidak eksis saat itu.”

Podcaster Molly Burdick dan produser Graham Cook dari Pod and Prejudice mengatakan bahwa selama pandemi, novel Austen lebih dapat diterima daripada sebelumnya.

Burdick melalui Zoom mengatakan, “Kita harus terlebih dulu mulai mengirimkan pesan dan berkencan lewat FaceTime, yang akan setara seperti …menulis surat bagi mereka,” timpal Graham Cook.

Menulis surat, berjalan-jalan di taman-taman umum, terpisah dalam jarak enam kaki (1,8 meter) setiap saat, tidak dapat bersentuhan sebelum menikah, semua itu relevan dengan situasi kekinian, kata Burdick dan Cook. Erwin mengatakan film adaptasi juga merupakan warisan Austen.

Adaptasi karya Austen yang terkenal seperti Persuasion produksi BBC tahun 1995 dan Pride and Prejudice garapan sutradara Joe Wright pada tahun 2005 membantu meningkatkan ketenaran Austen ke level baru, meskipun dalam format yang dipadatkan. Adaptasi film-film pada abad ke-21 ini, kata Erwin, bisa membawa kaum milenial ke buku-buku Austen.

Atau, mungkin juga tidak demikian, kata Yolanda Rodriguez dari the Pemberley Podcast melalui Zoom. “Mungkin mereka tidak membaca buku-bukunya dan mungkin mereka hanya mengeksplorasi adaptasi film lainnya atau acara TV lainnya.”

Bagaimana pun, semua ini memperlihatkan betapa abadinya karya-karya Jane Austen. [VOA/BTC]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here