Beranda Sastra Online Cerpen Anto Narasoma : ADELLIA

Cerpen Anto Narasoma : ADELLIA

ADELLIA
Cerpen Anto Narasoma

SUASANA siang sehabis rapat sekolah, situasi di ruang cukup panas dan sumpek. Suasana pengap dan sumpek yang dirasa para guru di ruangan itu, karena sudah tiga hari tak turun hujan.
————-

Ibu Dhenis tampak gelisah. Dari gambaran wajahnya tampak begitu kentara. Ia tak mampu menutupi kegelisahannya.

“Ada apa Ibu Dhenis? Dari tadii ibu tampak gelisah. Karena dari sikap ibu yang sejak selesai rapat tadi, gambaran kegeelisahan itu kentara sekali,” tanya Pak Albert, guru matematika yang berasal dari Medan.

Ibu Dhenis tak segera menjawab. Ia menatap wajah Pak Albert, lalu tersenyum. Manis sekali senyumnya.

“Aku gelisah dengan Dellia. Anak didik kita yang pintar dan kerap memproleh penghargaan dari kepala sekolah,” ujar Bu Dhenis.

“Kenapa dia, Bu,” tanya Pak Albert dengan kening berkerut.

Bu Dhenis menghela napasnya. Lalu ia mengatakan bahwa sudah tujuh hari Adellia tak masuk sekolah. “Ada apa dengan anak itu, ya?” ujar Bu Dhenis seperti bicara dengan dirinya sendiri.

2

Memandang wajah rekan sesama guru itu, perasaan Pak Albert Simamota trenyuh bukan main. Memang, Adellia adalah anak didik yang telah mengharumkan nama sekolahnya.

“Kita boleh sedih ketika anak itu tak massuk sekolah. Namun sebagai guru kita tidak punya kewenangan masuk ke dslam urusan rumah tangga anak itu, Bu Dhrnis?” kata Pak Albert dengan rona wajah prihatin.

Apa yang dikemukakan sahabatnya itu menyadarkan pikiran Ibu Dhenis. Namun perasaan seorang ibu seperti Dhenis memiliki nilai perhatian yang begitu dalam terhadap Adellia. Sebab bagi Ibu Dhenis, anak didiknya sudah ia anggap seperti anak sendiri.

“Itu betul Pak Albert. Namun kasih sayang saya terhadap Adelllia sudah terbangun sejak ia sekolah di sini,” tukas Ibu Dhenis.

Pak Albert hanya menganggukkan kepala. Sebab ia sadar betul jika merasakan jiwa pendidik seperti Ibu Dhenis.

Selama guru wanita itu bergabung di Sekolah Dasar Puspita Hati, Bu Dhenis telah memperlihatkan prestasi terbaik di dalam memberi bahan ajaran bagi anak didiknya.

Selagi Ibu Dhenis dan Pak Albert asyik tenggelam dalam persoalan Adellia yang sudah sepekan tak masuk sekolah, masuklah Ibu Zanaria yang berasal dari Banjarmasin itu ke ruang guru. Tak lama di antaranya masuk pula Pak Aspar Patturusi dari Makasar dan Ibu Hayati dari Cianjur.

“Wah, ada apa ini? Tampaknya bahan yang dibahas Pak Albert dan Ibu Dhenis menarik sekali, nih,” ucap Ibu Zanaria sembari tersenyum.

Ibu Dhenis menarik napas prihatin. Kemudian ia menjelaskan tentang murid mereka Adellia yang sudah tujuh hari tak masuk sekolah. Padahal anak itu sangat cerdas dan berperilaku baik. “Saya sangat prihatin kepada anak itu,” tukas Ibu Dhenis.

“Betul Bu Dhenis. Saya juga terkesan dengan anak tersebut. Tapi ke mana anak itu ya?” tanya Ibu Zanaria.

“Inilah yang kami bahas dengan Pak Albert, Ibu Zanaria,” tukas Ibu Dhenis.

Suasana diam sejenak, kemudian Pak Aspar Patturusi mengatakan,” Sebaiknya pihak sekolah mendatangi ke rumah Adellia. Sebab kewajiban kita juga untuk menanyakan kabar anak tersebut”.

Ibu Dhenis melihat arlojinya. Hari sudah menunjukkan ke pukul 15.00 WIB siang. Ibu Dhenis minta pendapat ke pada rekan-rekan guru lainnya.

“Kalau menurut saya, kita perlu minta pendapat Kepala Sekolah. Sebab kita tidak punya kewenangan lagi untuk melakukan kewajiban sekolah di luar kedinasan kita,” kata Pak Albert.

Sedangkan Ibu Zanaria menyarankan agar sekolah
secepatnya mendatangi kediaman Adellia. “Coba Ibu Dhenis hubungi Pak Mandas Alfanay, kepala sekolah kita,” tukas Ibu Zanaria.

Pak Mandas Alfanay berasal dari Maluku. Ia sudah lebih dari setahun dipercaya menjadi kepala sekolah. “Nanti Pak Mandas akan meminta Ibu Maruna dari Papua yang akan mendatangi rumah Adellia,” ujar Ibu Zanaria menambahkan.

Mendengar pendapat dari rekan-rekannya, perasaan Ibu Dhenis pun senang bukan main. Ia pun tersenyum.

3

Setelah ibunya pergi meninggalkan rumah, Adellia begitu sedih. Ia sudah meminta agar ibunya tidak pergi meninggalkannya, tapi sia-sia.

Padahal Adellia sudah meratap agar ibunya tidak pergi dari rumah, tampaknya percuma saja. Bahkan tubuh Adellia ditolak ibunya hingga terduduk ketika ibunya pergi.

Sebelum bertengkar dengan ibunya, Frambudi, ayah Adellia adalah seorang pemabuk. Kebiasannya hanya mencekik leher botol brendy setelah berhenti bekerja di kapal Honolulu.

Karena Frambudi selalu bersikap kasar dan tak pernah peduli dengan keluarganya, akhirnya Netty, ibunya Adellia pergi meninggalkan rumah dengan laki-laki lain.

Sejak itu Adellia hidup sendiri. Ia tak punya keluarga di Jakarta. Padahal usia Adellia baru sembilan tahun. Di usia itu, harusnya Adellia mendapat bimbimgan dan perhatian dari orangtuanya. Namun keadaannya justru semakin parah.

Sejak meninggalkan rumah, dalam keadaan mabuk, Frambudi berjalan sempoyongan. Tepat di kelokan jalan, seunit mobil dengan kecepatan tinggi berjalan kencang ke arah Frambudi.

Tanpa ampun, tubuh Frambudi terlempar sekitar dua belas meter dari lokasi tabrakan. Setelah terlempar ke tanah, ayah Adellia terkapar tak berdaya. Mobil yang menabrak Frambudi segera kabur dari lokasi tersebut.

Siang itu, perasaan Adellia tergetar. Bayangan wajah ayahnya sangat merisaukan perasaan hati anak itu. Ayah, di mana kau?

Perut Adellia lapar bukan main. Sebab sejak kemarin belum terisi sebutir nasi pun. Ia berjalan menelusuri kaki jembatan. Adellia sudah menawarkan jasa untuk mencuci piring di sejumlah warung Tegal (warteg), tapi tak seorang pemilik warteg pun yang mau mempekerjakan anak kecil.

“Tidak Nak, kami sudah ada pembantu yang mencucikan piring kami. Maaf ya?” kata seorang ibu pemilik warung dengan logat bahasa khas Tegal yang kental.

Sementara tubuh Adellia sudah begitu lemas. Tenaganya seolah tak ada lagi. Namun dengan semangat yang tersisa, ia tetap melanjutkan perjalanan yang tak tentu arah.

Tepat di trotoar pertokoan, tubuh gadis kecil itupun tumbang. Ia tergeletak tak berdaya. Orang-orang yang berlalu-lalang di antara pertokoan itu ribut dan mendatangi Adellia yang tergeletak begitu saja.

“Ah, ada apa dengan anak ini? Tubuhnya dingin sekali,” begitu suara orang-orang di sekitar itu.

Kebetulan Ibu Dhenis yang berjalan di sana kaget melihat hiruk-pikuk orang yang mengerumuni tubuh kecil yang tergeletak tak berdaya itu.

Ibu Dhenis menyerbu ke arah kerumunan orang-orang. Tatkala melihat tubuh mungil gadis kecil itu, perasaan Dhenis tergetar. Siapa dia?

Ketika Ibu Dhenis menatap wajah gadis itu, hatinya tergetar. Ah, itu Adellia. Muridnya yang cerdas dan memiliki prestasi membanggakan. “Adellia !” begitu teriak Ibu Dhenis dengan bersimbah air mata.

Akhir April 2021
————————–
Anto Narasoma

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here