Beranda Opini Momentum Pandemi, Angkat Roda Ekonomi Lokal

Momentum Pandemi, Angkat Roda Ekonomi Lokal

Teguh Estro(Penulis Buku Menggugah Kesadaran Sosial Ekonomi)Direktur RESEI, Research ad Social Empowerment Institute
Cake

Buletinterkini.com  —Kebijakan lockdown, karantina wilayah dan zona merah di beberapa daerah melahirkan fenomena ekonomi baru. Yakni arus deglobalisasi merupakan kondisi yang bertolak belakang dengan istilah globalisasi selama ini. Adapun gejala yang muncul yakni perlambatan laju perdagangan ekspor – impor, iklim investasi yang menurun dan rendahnya mobilisasi global, baik barang hasil produksi maupun perpindahan orang. Geliat permintaan pasar yang menurun atas komoditas luar, hal ini sebagai peluang bagi perekonomian domestik. Pelaku pasar lokal harus bisa membaca tren ini sebagai batu loncatan menuju meningkatnya gairah pasar.

Perubahan komoditas pasar pun terjadi, seperti munculnya permintaan atas komoditas-komoditas baru seiring ditetapkannya kebijakan new normal. Seperti kebutuhan akan masker, multivitamin, buah, hand sanitizer, sampai pada peralatan kantor yang steril. Pola konsumsi pun mengalami pergeseran. Dari belanja secara fisik menuju belanja daring walaupun dengan ragam keterbatasan. Era new normal atau kelaziman baru ini setidaknya telah “me-RESTART” kesibukan pasar selama ini.

Pandemi Covid-19 akhirnya membuka mata bagi banyak pihak, bahwa dalam skenario ekonomi mendesak seperti saat ini kita justru bisa mengarahkan konsumsi pada produk-produk domestik. Maka pekerjaan rumah bagi pelbagai pihak adalah, berusaha untuk terus menjaga tren konsumsi produk lokal ini. Kondisi ini mampu menambah munculnya Demands (red:permintaan pasar) sehingga bisa membuat gairah produksi UMKM-UMKM kembali bangkit. Meningkatkan permintaan bisa dilakukan dengan pendekatan fiskal dan moneter sekaligus. Stimulus fiskal bisa dengan pelaksanaan pameran pasar murah bagi produk-produk lokal. Selanjutnya alokasi belanja langsung pemerintah pada sektor-sektor hilir produksi.

Begitupun dengan pendekatan moneter kepada pihak perbankan di daerah untuk memudahkan persyaratan kredit bagi pelaku UMKM yang potensial dan punya track record. Upaya penggalian peserta kredit yang potensial pun bisa digalakkan kembali untuk mendorong arus perputaran uang di pasar dapat lebih kencang. Jangan sampai di masa krisis, justru terjadi perlambatanan pertumbuhan kredit. Penguatan UMKM adalah solusi yang cukup paten, karena sebagian besar konsumsi masyarakat Indonesia bertumpu pada usaha mikro dan kecil menegah ini. Dalam buku Ekonomi Pembangunan Daerah Karya Dr. Muammil Sun’an.,MP.,M.AP dikatakan bahwa “Sektor Industri kecil/ rumah tangga/ menengah telah terbukti lebih fleksibel dalam berbagai kondisi perekonomian yang tidak menguntungkan, seperti yang saat ini dialami Indoensia. Pada industri besar telah gulung tikar, sebagian industri kecil masih bertahan….” (hal. 123)

“New Normal” Sebagai Skenario Permanen

Masih tingginya mortalitas yang rata-rata 50 orang meninggal per hari akibat covid-19. Begitupun dengan isu Second Wave yang menghantui akhir-akhir ini. Hal tersebut tentu saja bisa menggiring opini publik menuju permanennya skenario New Normal. Setidaknya dalam jangka satu semester ke depan, protokol kesehatan masih menjadi opsi harga mati. Termasuk diantaranya kebijakan Physical Distancing, semakin diterimanya konsep Work From Home sebagai kelaziman baru. Dan menjamurnya kanal edukasi digital yang bisa saja mendisrupsi institusi pendidikan konvensional. Lalu dimana peluang ekonominya?

Sebelum berbicara peluang ekonomi, ada satu hal yang harus kita sadari. Yakni, pandemi covid-19 ini mempercepat lahirnya masyarakat digital. Masyarakat di kampung-kampung yang dulu masih berimbang antara kegiatan dunia nyata dan aktivitas online, namun kini sudah kian membaur dalam interaksi Social media. Mulai dari komunikasi keluarga, komunikasi rekan kantor, kegiatan sosial, aktivitas belanja, pelayanan birokrasi sampai kegiatan sekolah pun hampir semua beririsan dengan gawai digital. Inilah masyarakat digital yang perlahan-perlahan menjelma menjadi market riil. Apalagi saat ini tengah berkembang layanan pembayaran digital. Bila dahulu demam digital hanya muncul di kota-kota besar, kini warga pedesaan sudah menyambut tren masyarakat digital ini. Dan sebut saja namanya Rural Digital.

Fenomena masyarakat Rural Digital ini bila tak dimanajemen secara bijak, maka bisa menjadi ‘bumerang’ bagi ekonomi lokal. Karena bisa saja produk luar yang memiliki efisiensi tinggi masuk dan merusak pasar lokal. Dan gejala ini sudah mulai terlihat. Sehingga setiap daerah kudu serius menentukan local product agar bisa memformulasikan keunggulan komparatif secara tepat. Inilah saatnya sebuah desa bisa berinisiatif memproduksi kebutuhan masyarakatnya sendiri. Dalam buku Berkaca dari Kegagalan Liberalisasi Ekonomi karya Dr. H. Soekarwo menyebutkan bahwa “Perdagangan Elektronik harus korelatif dengan suplai domestic yang kuat. Jika tidak, kita hanya akan menjadi keranjang besar (big basket) untuk produk-produk luar negeri yang dibawa dengan infrastruktur e-commerce dari berbagai provider…” (hal. 228)

Belajar dari pemerintah Korea Selatan, Amerika Serikat, Tiongkok dan Jepang yang sangat serius mendorong industri-industri lokal mereka. Industri K-Pop dari Korea Selatan, J-Pop dari Jepang, produk smartphone di China dan Amerika Serikat yang kesemuanya adalah hasil sinergi antara permintaan pasar dan kebijakan proteksi pemerintahnya. Tentu saja kita bisa mencontoh hal tersebut dan diterapkan dalam skala lokal pada masyarakat desa. Masyarakat bisa berkreasi menentukan prioritasnya, mulai dari produk kuliner, destinasi Eduwisata, agrowisata, produk budaya, lumbung perikanan, event olahraga tradisional, dan masih banyak lagi local wisdom lainnya yang bisa digali.

Tantangan Ekonomi Rural Digital

Upaya revitalisasi UMKM di ranah lokal tidaklah semudah mebalikkan telapak tangan. Ragam tantangan yang siap menghajar pemain-pemain lokal. Antara lain ;

1.minimnya modal dan aset pelaku usaha,

2.kualitas SDM manajerial yang rendah,

3.lemahnya networking,

4.belum berpengalaman dalam melakukan penetrasi pasar,

5.iklim usaha yang belum kondusif semasa pandemi Covid-19,

6.infrastruktur ekonomi di desa yang belum mapan dan

7.mudahnya produk luar masuk sebagai pesaing. (Teguh Estro)

Sumber Bacaan :

1. Ekonomi Pembangunan Daerah Karya Dr. Muammil Sun’an, S.E.,MP.,M.AP dan Abdurrahman Senuk, S.E.,M.Si

2. Berkaca dari Kegagalan Liberalisasi Ekonomi Karya Dr. H. Soekarwo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here